Pengelolaan program pengembangan ekonomi kerakyatan dilakukan oleh tujuh Biro Pengembangan Ekonomi sesuai dengan tujuh suku di Mimika (Amungme, Kamoro, Dani, Mee/Ekari, Moni, Damal dan Nduga) yang menjadi sasaran program dengan pendekatan KSM. Usaha yang dikembangkan KSM binaan diantaranya: peternakan, pertanian, perikanan, usaha kios, jasa, home industry dan perkebunan. Hasilnya sampai saat ini telah berkembang ribuan KSM dengan berbagai jenis usaha.
Wakil Sekretaris (Wase) III LPMAK, Yohanes Arwakon menerangkan sejak 2003 pengembangan ekonomi kerakyatan dilakukan melalui proses hibah langsung, dimana masyarakat sasaran menerima dana tunai. Tapi, setelah dievaluasi ternyata uang yang diberikan langsung, tidak memberikan manfaat yang maksimal bagi masyarakat.
Sehingga mulai 2007, LPMAK menerapkan program dana bergulir. "Kami upayakan dengan program dana bergulir, mereka mendapatkan dana dengan cara dan kriteria yang cukup ketat. Syarat ini tujuannya untuk memberikan pendidikan kepada mereka. Intinya bagaimana mereka bisa menabung dari hasil usaha mereka," jelas Yohanes Arwakon yang ditemui di Graha ENY, Kamis (14/4).
Cara ini mulai menunjukkan hasil lebih baik, dimana dulunya masyarakat tidak memiliki tabungan, setelah menerapkan dana bergulir sejak 2007, maka tabungan masyarakat sampai akhir Desember 2010 sudah mencapai sekiar Rp 7 miliar.
"Ini tabungan murni yang disetor masyarakat dari usaha mereka. Selain itu ada perubahan paradigma, dimana sebelumnya masyarakat ketika diberi uang diambil semuanya, tapi sekarang berubah, mereka menyimpannya di bank," jelasnya.
Hasil-hasil usaha dari sejumlah ektor ekonomi tersebut pada Kamis - Jumat (14-15/4) dipamerkan dalam LPMAK Expo 2011. Masing-masing biro menunjukkan kegiatan usahanya, seperti peternakan ayam, peternakan babi, budidaya ikan lele, sayur-sayuran, dan lain sebagainya.
Salah satu yang diseriusi LPMAK adalah pengembangan ternak babi. Diharapkan Desember 2011 masing-masing biro ekonomi di LPMAK akan mampu menghasilkan 800 ekor babi dengan usia minimal 6 bulan.
"Ini mengejar produksi supaya harga (babi di Timika, red) bisa stabil. Kita punya 6 biro yang berkonsentrasi untuk pengembangan peterrnakan babi. Kita punya mimpi ada 800 ekor babi kali 6 biro. Ini merupakan angka yang fantastis, tapi kita berupaya untuk mencapai target itu," tandasnya.
Bidang usaha lainnya yang ditekuni, misalnya perikanan. "Hampir semua pesisir, kami bekerjasama dengan pihak AMARTA USAID, PTFI dan pelaksana di lapangan Koperasi Maria Bintang Laut dari Keuskupan. Kami support untuk mereka mulai melakukan pembelian.
Selain perikanan, suplai sayur dan buah-buahan juga akan dilakukan sebagai bagian dari agribisnis. Bahkan kedepan LPMAK juga akan melihat potensi sagu.
Pihaknya berharap masyarakat konsisten dengan usahanya. Pihaknya juga berupaya supaya masyarakat punya cadangan bahan pangan di masing-masing wilayah.
(sumaryoto&nelly bela/radar timika)