|
Senin, 28 Mei 2012 , 18:04:00
JAYAPURA – Ketua DPRD Puncak Jaya Papua Nesco Wonda merasa tidak terima dituduh terlibat dalam aksi-aksi gerakan kelompok separatis bersenjata di Mulia oleh Perwira Penghubung Kodam XVII/Cenderawasih Mayor Infanteri Ahcmad.
Nesco Wonda kepada Cenderawasih Pos, Sabtu (26/5) mengatakan, tuduhan dan ancaman dari sang perwira menengah Kodam tersebut terjadi saat kejadian penembakan terhadap warga sipil yang dilakukan oleh kelompok separatis bersenjata di Mulia, Kabupaten Puncak Jaya pada Kamis (17/5) pekan lalu yang menyebabkan satu tukang ojek atas nama Arkilaus Refwatu tewas dan tiga warga sipil lainnya mengalami luka-luka.
Nesco dituduh oleh perwira penghubung itu kalau dirinya terlibat dalam serangkaian aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok separatis bersenjata di Mulia dan memimpin rapat-rapat gelap untuk membunuh warga di Mulia,.
”Sangat disanyangkan sekali yang terjadi tanggal 17 lalu bahwa rapat-rapat untuk membunuh orang yang dilakukan oleh kelompok yang bikin kacau seolah-olah saya yang pimpin. Saya ini wakil rakyat, untuk apa saya buat hal-hal begitu,” jelasnya.
Nesco sangat menyanyangkan tuduhan itu, pasalnya, dirinya selaku anak daerah Puncak Jaya sama sekali tidak mempunyai kepentingan politik apapun dalam kasus-kasus separatis bersenjata yang terjadi di Mulia, Puncak Jaya.
”Mereka (TNI,red) tahu siapa musuh mereka, kenapa saya harus dituduh-tuduh seperti itu,” ujarnya.
Lebih lanjut politisi partai Demokrat ini mengatakan bahwa atas tuduhan yang dianggap fitnah itu, dirinya telah menghubungi perwira penghubung tersebut dan meminta klarifikasi dan hingga kini belum mendapat tanggapan dari perwira tersebut dan apabila tuduhan itu tidak terbukti maka Nesco akan melayangkan gugatan secara hukum atas hal tersebut.
”Saya sudah sms perwira itu dan minta dia supaya siapkan bukti. Dia jangan tuduh sembarangan dan saya harap dia siapkan bukti-bukti kalau memang saya terlibat, tapi kalau tidak maka saya akan tempuh jalur hukum yang berlaku di negara ini,” tegasnya
Selain itu, Nesco mengatakan hingga saat ini dirinya sebagai pejabat dan wakil rakyat serta segenap pejabat pemerintahaan yang ada di Mulia sudah berupaya melakukan berbagai upaya untuk menyelesaikan konflik di Mulia, namun semua itu bukan hanya tanggung jawab sebagai pejabat di daerah, tapi juga tanggung jawab aparat keamanan yang ditugaskan di daerah Mulia untuk menyelesaikan konflik di daerah Puncak Jaya dengan formula yang baik.
Nesco mengatakan dirinya akan segera menghadap Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen TNI. Erwin Syafitri untuk membicarakan kasus tersebut dan dirinya juga akan secara tegas meminta kepada pimpinan TNI di Papua itu untuk menarik Perwira Penghubung Mayor Infanteri Acmad untuk ditarik dari Puncak Jaya.
Untuk situasi terkahir di Mulia, Nesco mengatakan bahwa situasi di Mulia sudah sangat kondusif, dan dirinya memberikan apresiasi yang sangat tinggi untuk kinerja Kapolres Puncak Jaya, AKBP Marselis.S yang walaupun baru saja menjabat dua bulan di Mulia namun telah melakukan berbagai langkah-langkah persuasif untuk menyelesaikan konflik di Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua.
Sementar itu, Kapendam XVII Trikora Kolonel Inf. Alie Bogra mengatakan bahwa kasus tersebut masih perlu dibuktikan lagi dan pihaknya akan mengecek kejelasan adanya tuduhan dan ancaman yang diduga dilakukan oleh anak buahnya di Mulia itu.
”Hal ini saya harus cek lagi soal kejelasannya, saya belum bisa berikan konfirmasi, nanti saya cek ke anggota saya di lapangan,” ujar Kapendam XVIII/Cenderawasih Kolonel Inf. Alie Bogra kepada Cenderawasih Pos, Sabtu (27/5). (cr-177)
|