|
Jum'at, 18 Mei 2012 , 17:49:00
Satu Tewas dan Empat Luka-luka
JAYAPURA - Aparat Kepolisian dari Brimob yang melakukan pengamanan di wilayah pendulangan emas Desa Nomowodide, Distrik Bogobaida, Kabupaten Paniai, Selasa (15/5) sekitar pukul 20.00 WIT terpaksa menembak beberapa warga yang membuat keonaran di tempat biliard dan hendak merampas senjata milik Brimob. Akibatnya, satu orang tewas dan empat lainnya mengalami luka tembak.
Awalnya, ada beberapa warga mendatangi tempat permainan biliard milik Yona, yang mana saat itu meja biliar sedang penuh digunakan oleh warga setempat. Karena meja penuh, beberapa warga itu memaksa main dan marah-marah serta mengancam pemilik biliard. Lalu pemilik biliard langsung mendatangi Pos Brimob untuk meminta tolong.
Tiga anggota Brimob kemudian menuju tempat biliard untuk memberikan pengamanan. Ketiga anggota yang diketahui bernama Briptu Ferianto, Bripda Agus dan Bripda Edi saat sampai di lokasi langsung menegur beberapa warga tersebut agar tidak membuat keributan, sambil mengarahkan masyarakat yang berkerumun untuk membubarkan diri.
Namun naas, saat Briptu Ferianto yang saat itu berada di kerumunan massa, tiba-tiba dipukul dengan menggunakan stick dan bola biliard. Tidak sanggup menahan sara sakit anggota tersebut terjatuh. Saat anggota itu jatuh, di antara beberapa warga yang melakukan keonaran tersebut berupaya merebut senjata milik Brimob itu. Salah satu warga yang berupaya merampas senjata itu adalah Melianus Kegepe.
Melihat ada beberapa warga yang mencoba mengambil senjata anggota, salah satu anggota Brimob lainnya yaitu Bripda Edi mengeluarkan tembakan hingga mengenai pinggang Melianus. Sementara warga lainnya yang diketahui bernama Lukas kemudian mengejar Bripda Edi sambil memegang pisau dan hendak menikamnya. Merasa terdesak Bripda Edi mengeluarkan letusan dan mengenai perut korban.
Mendengar suara tembakan dan adanya dua orang terkena tembakan, kondisi semakin kisruh. Tidak lama kemudian, anggota menembak 3 warga lainnya yang saat itu berupaya membela temannya yang ditembak, sebab ketiga warga tersebut juga berusaha mengejar anggota yang menembak. Lalu anggota kemudian menembak warga yang mengejar itu..
Kapolres Paniai AKBP Anton Diance ketika di konfirmasi Cenderawasih Pos melalui telepon selulernya membenarkan adanya kasus penembakan itu.
"Ya ada anggota Brimob menembak 4 warga, bukan 5 orang. Yang mana di antaranya 1 tewas dan 3 luka-luka. Kejadian ini bermula dari anggota yang diminta oleh pemilik pengusaha biliard untuk memberikan teguran kepada beberapa orang yang hendak merusak usahanya dan mengancam pemiliknya," ungkapnya, Selasa (16/5).
Menurutnya, perbuatan yang dilakukan oleh anggota Brimob tersebut sudah sesuai prosedur, sebab saat kejadian, anggota yang hendak memberikan rasa aman kepada pemilik usaha dan warga yang saat itu ada di tempat kejadian malah dipukul dan senjatanya hendak dirampas.
"Perkiraan kami, keributan ini seperti sudah direncanakan, dengan tujuan memancing anggota yang saat itu sedang berjaga di daerah TKP. Namun kami dari Polres Paniai akan mengusut secara tuntas kejadian ini," katanya.
Kapolres mengatakan warga yang kondisinya kritis akan segera diterbangkan ke Nabire untuk mendapatkan perawatan secara intensif. "Satu sudah di terbangkan melalui pesawat atas nama Amos Kegepe. Hanya saat untuk mengevakuasi korban yang kritis lainnya ke RS di Nabire cuaca berubah jelek, sehingga diputuskan untuk ditunda dan kini berada di pertambangan emas KM 45," jelasnya
Kapolres mengatakan suasana di tempat kejadian sudah aman dan terkendali. "Tidak ada lagi perlawanan. Kini suasana di TKP sudah kondusif, tidak ada lagi gangguan, dan dalam waktu dekat ini kami akan melakukan oleh TKP," tuturnya.
Kapolres juga sudah memerintahkan seluruh anggota untuk tidak mudah terpancing dari kelompok-kelompok yang ingin membuat keributan. "Saya sudah perintahkan dengan tegas agar anggota yang berada di lokasi untuk tetap mengendalikan emosi, jangan mudah mengeluarkan tembakan. Saat ini ketiga anggota dalam pemeriksaan, untuk di mintai keterangan atas apa yang telah terjadi," tukasnya.
Sementara itu, Ketua Lembaga Pengembangan Masyarakat Adat Suku Wolani, Mee dan Moni (LPMA Swamemo), Thobias Bagubau meminta Kapolda Papua segera bertanggung jawab atas penembakan warga sipil di Paniai, dan menarik pasukan yang ada di sana.
Selain itu, Pemerintah Provinsi Papua juga diminta segera mengeluarkan surat perintah penutupan penambangan liar yang selama ini terjadi di daerah tersebut. "Kami juga minta DPRP dan MRP segera mendirikan tim terpadu untuk menyelesaikan persoalan penembakan itu.
Ketua LPMA Swamemo mengatakan, sesuai data yang diterimanya, kasus pemembakan itu menewaskan 3 warga sipil dari suku Wolani yaitu Melianus Abaa (40), Lukas Gegepe (30), dan Amos Gegepe (30). (ro/cr-179/fud)
|