JAKARTA - Film trilogi Merah Putih yang menjadi salah satu box office di Indonesia sampai juga di perjalanan final. Setelah sekuel keduanya, Darah Garuda, rilis tahun lalu, kisah kelompok pasukan gerilya elite yang terdiri atas Amir (Lukman Sardi), Tomas (Donny Alamsyah), Marius (Darius Sinathrya), Senja (Rahayu Saraswati), dan Dayan (T. Rifku Wikana) itu berakhir di sekuel ketiga yang berjudul Hati Merdeka.
Di film yang akan rilis pada 9 Juni mendatang tersebut, mereka harus menyelesaikan misi menumpas kekejaman Raymer (Michael Bell), kolonel penjahat perang Belanda yang berada di Bali. Karena misi itu, kelompok kadet akhirnya menempuh perjalanan ke Pulau Dewata, tanah kelahiran Dayan.
Misi menumpas Raymer diwarnai dendam. Raymer adalah orang yang membunuh keluarga Tomas (diceritakan pada awal trilogi). Dayan juga memiliki dendam tersendiri karena kolonel tersebut melakukan kejahatan di tanah kelahirannya.
Untuk menyelesaikan misi, kelompok itu mengalami beberapa halangan. Mereka kehilangan anggota baru. Selain itu, mereka diuji dengan mundurnya Amir sebagai pimpinan. Apa yang diperintahkan, yakni membunuh Raymer, tidak sesuai dengan hati nurani Amir. Anggota lain tidak berkeberatan dengan hal itu karena amarah yang berkecamuk di hati.
Seperti sekuel sebelumnya, di film ketiga penonton tidak hanya disuguhi efek serta adegan apik yang digarap orang-orang berpengalaman di perfilman Hollywood. Penonton juga disuguhi eksotisme tanah Indonesia. Semuanya tergarap dengan detail. Hati Merdeka bahkan berani menyuguhkan adegan peperangan di laut yang lengkap dengan ledakan bom. Adegan tersebut jarang dibuat di film-film Indonesia selama ini.
Hashim Djojohadikusumo selaku produser eksekutif menyatakan bahwa tiga filmnya itu memang berlatar belakang tahun 1945?1949. Itu hanya menjadi representasi bagaimana para pejuang membela negara.
"Meski Indonesia merdeka pada1945, masih banyak gejolak yang terjadi setelah itu yang mungkin belum kita ketahui. Cerita Raymer tersebut adalah fiksi yang berdasar fakta kekejaman sesungguhnya yang dilakukan Raymond Westerling dan KNIL. Mereka membunuh sekitar 40 ribu orang sipil pada masa penjajahan Belanda," paparnya pada Rabu lalu (1/6) di Blitz Megaplex, Grand Indonesia, setelah pemutaran perdana.
Seperti dua film sebelumnya, film ketiga itu akan dibawa berkeliling dunia. " Dua film sudah sukses di luar negeri dan diputar di lebih dari 12 negara di Amerika, Eropa, dan Asia. Begitu juga film ketiga. Apalagi, tiga film tersebut dibeli Universal Pictures. Jadi, kesempatan untuk melanglang buana lebih besar lagi," jelas Rob Allyn, produser eksekutif Margate House Films. (jan/c12/ayi)